RSS
Tampilkan postingan dengan label article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label article. Tampilkan semua postingan

Mudik Ala Jepang


Bukan hanya Indonesia yang mengenal budaya mudik kala lebaran tiba. Tapi di Jepang, mudik juga bagian dari tradisi. Selama pertengahan Agustus ini, banyak masyarakat Jepang mengambil cuti panjang, untuk mudik ataupun berkumpul dengan anggota keluarga. Beberapa rekan Jepang di kantor saya juga ikut mengambil kesempatan cuti dalam bulan ini.

Setiap bulan Agustus, masyarakat Jepang memang merayakan festival Obon, atau hari raya Obon. Meski bukan menjadi hari libur nasional, orang Jepang mengambil cuti untuk merayakan Obon. Kalau kita lihat suasana di perkantoran-perkantoran kota Tokyo pada hari Obon, maka akan nampak lebih lengang dari biasanya. Kebetulan hari Obon tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan yang dirayakan oleh umat Islam.

Festival Obon adalah perayaan yang diselenggarakan masyarakat Jepang untuk menghormati arwah leluhur mereka. Orang Jepang meyakini bahwa pada hari-hari Obon (pertengahan Agustus), arwah para leluhur mendatangi mereka untuk berkumpul kembali.

Saat itulah, orang Jepang harus pulang ke kampung halaman, berkumpul bersama keluarga, untuk menemui arwah leluhur, dan sesudah itu “mengantarkan” arwah kembali ke alamnya. Inilah saat-saat “reuni” Ruh dengan alam ragawi. Perayaaan Obon sendiri, telah berlangsung ratusan tahun lamanya, sejak era Kaisar Meiji, dan dilestarikan sebagai tradisi hingga kini.

Festival Obon biasanya berlangsung selama tiga hari, yang waktunya berbeda-beda dan tergantung pada wilayah masing-masing. Saat perayaan Obon, orang Jepang membersihkan rumah-rumah mereka, mempersembahkan sesajian, dan memasang lentera atau lilin-lilin kecil di rumah, altar kuil, maupun dilepas di sungai-sungai. Hal ini dilakukan untuk menyambut dan mengantarkan arwah leluhur mereka kembali ke alamnya.

Menghargai dan menghormati arwah leluhur adalah ajaran sentral dalam agama-agama di Jepang, baik Shintoisme ataupun Japan Buddhism. Leluhur tak pernah dianggap putus hubungan dengan mereka di alam ragawi.


Filosofi obon ini memiliki keterkaitan juga dengan apa yang diajarkan dalam Islam. Oleh karenanya, merenungkan Obon di bulan Ramadhan ini juga dapat memperkaya makna puasa kita.

Ceramah Ustadz Abdullah Taslim saat tarawih di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), beberapa hari lalu sungguh menarik. Ustdaz Taslim mengutip hadits nabi yang mengatakan, apabila anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh. Artinya, masih ada linkage yang menghubungkan dunia arwah dengan dunia kasat mata. Ini juga esensi Obon.

Para anak-anak soleh memiliki privilege untuk mengirimkan doa langsung kepada orang tuanya. Bukan hanya orang tua, namun juga bagi orang-orang beriman yang mendahului. Meski dalam tataran yang berbeda, hubungan antara dunia Ruh dan dunia kasat mata juga dijaga dalam tradisi Islam.

Oleh karena itu, perayaan Obon yang bertepatan dengan bulan Ramadhan ini sungguh menarik sebagai bahan perenungan kita semua, khususnya umat muslim yang sedang berada di Jepang.

Upaya menghargai tradisi dan kebiasaan agama lain, mencari kesamaan dalam perbedaan, adalah esensi kerukunan dan kebersamaan antar umat beragama. Upaya ini yang dulu dilestarikan oleh para Wali, saat menyebarkan Islam di nusantara. Saat itu, agama diajarkan dan menyatu untuk mencari kesamaan, bukan perbedaan.

Pada waktu kawan saya yang orang Jepang bercerita tentang Obon, dan berpamitan untuk cuti merayakan Obon, saya menyampaikan selamat hari Obon kepadanya. Semoga arwah leluhurnya tenang di alam sana. Iapun mengucapkan selamat berpuasa, dan meminta kita semua menjaga kesehatan karena musim panas di Jepang yang sangat panas.

Dan malam itu, bersama jamaah tarawih di Balai Indonesia, kami diingatkan tentang ayat Qur’an, Al Hasyr 59, ayat 10: “Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” Ayat itu mengajak kita semua untuk bersama mendoakan leluhur kita.

Semoga para leluhur, orang tua, dan mereka yang telah mendahului kita senantiasa diberikan Kasih oleh Tuhan.

cr : kompasiana oleh Junarto Herdiawan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Beberapa Hal yang Unik di Jepang


Ada beberapa hal unik yang bisa ditemukan di Jepang. Dari mengenai tentang kebiasaan sehari-hari, transportasi sampai budaya pacaran.  Mula-mula saya awali tentang hal-hal unik pacarannya orang jepang.

1. Kalau orang indonesia pacaran pengen gaya pake bahasa jepang mengungkapkan perasaan sama pacar dengan kata "ai shiteru". Padahal di Jepang kata itu jarang digunakan orang jepang kepada pacarnya. Yang biasa digunakan adalah kata "suki desu" atau "daisuki desu" yang artinya "suka" atau "sangat suka".

2. Anter jemput pacar bukan budaya pacaran orang jepang. kalau ketemuan biasanya di stasiun. Kalau suka nonton dorama jepang pasti tau. Jadi tidak da istilah "pacarku tukang ojek-ku" seperti disini.

4. Di jepang taksinya keren pintunya dibuka sendiri oleh supirya secara otomatis. Yang lebih keren tarifnya sekitar 710 yen atau Rp. 71000. Selanjutnya beda lagi tarifnya, yang jelas bisa bikin bangkrut. Kalau tidak sedang buru-buru atau dalam keadaan darurat lebih baik naik bus atau kereta.


5. Bunga sakura sangat spesial bagi orang jepang. Bukan karena kecantikan dan keindahannya yang membuatnya spesial. Tapi juga karena si cantik ini hanya mekar setahun sekali itupun hanya 2 minggu. Saat mekar sakura memenuhi seluruh pohon tanpa daun.

6. Pernah melihat cara orang Jepang menghitung “satu”, “dua”, “tiga”.... dengan jari tangannya ? Kalau  orang Indonesia umumnya mulai dari tangan dikepal dan saat menghitung “satu”, jari kelingking ditegakkan. Menghitung “dua”, jari manis ditegakkan, dst. Kalau orang Jepang, kebalikannya. Mereka selalu mulai dari telapak tangan terbuka, dan cara menghitungnya kebalikan orang Indonesia. Saat bilang “satu”, maka jarinya akan ditekuk/ditutupkan ke telapak tangan.

7. Sepeda tidak boleh dipakai boncengan, kecuali yang memboncengkannya berusia lebih dari 16 tahun dan anak yang diboncengkan berusia kurang dari satu tahun dan hanya seorang saja yang diboncengkan. Bila dilanggar, dendanya maksimal 20 ribu yen.

8. Naik eskalator di Tokyo, kita harus berdiri di sebelah kiri, karena sebelah kanan adalah untuk orang yang terburu-buru. Jangan sekali-kali berdiri di kanan kalo kita ga langsung naik. 


9. Sebelum bepergian, biasanya orang Jepang selalu ngecek ramalan cuaca. Dan 90% ramalan cuaca itu akurat. Itu sebabnya kalau ada orang bawa payung, pasti kita bisa lihat orang yang lainnya lagi bawa payung juga. Dan perempatan Shibuya adalah tempat yang paling menarik ketika hujan, karena dari atas kita akan melihat lautan payung yang berwarna-warni.

10. Pejalan kaki di Jepang sangat tertib. seperti perempatan jalan yang kecil di Kyoto, tidak ada mobil sama sekali, tapi ada lampu merah, pejalan kaki selalu berhenti ketika lampu tanda pejalan kaki menunjukkan warna merah. Mereka santai saja, baca koran, ngobrol, ngerokok, dan kemudian jalan lagi ketika lampu sudah hijau. Padahal tidak ada mobil yang lewat satupun. Kalau melanggarpun mungkin ga bakal celaka.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Raja Tempe di Jepang


Saya mau ceritakan kembali apa yang saya saksikan di tvone pada acara "Bukan Jalan-Jalan Biasa". Dalam acara ini tvone sedang meliput di Jepang, persisinya di Tokyo dan Kyoto. Di Tokyo meliput J-Dut dan Lisa Halim. Kemudian di Kyoto meliput tentang bapak Rustono sang Juragan Tempe di Jepang.

Pak Rustono tinggal di daerah Katsuragawa yang terletak sekitar 30 kilometer dari Kyoto. Disanalah ai dan keluarga tinggal dan menjalankan bisnis pembuatan tempe. Awalnya bekerja di perusahaan roti sampai ke perusahaan sayur-mayur. Di situ Rustono banyak memerhatikan etos kerja karyawan Jepang. Selain penuh tanggung jawab, mereka juga berupaya mencapai target dan ikut serta dalam menjaga kualitas produksi. Pun Pemerintah Jepang sangat teliti dengan secara periodik memeriksa kualitas produksi, meninjau perusahaan, sampai memerhatikan kebersihan ruangan, termasuk peralatan dan meja kerja.

Belajar dari etos kerja orang jepang itu lah dia mulai menjalankan usahanya. Dari gajinya ia sisihkan untuk membuat tempe. Usaha dia membuat tempe tidak berhasil begitu saja. Dalam waktu 4 bulan dia baru berhasil membuat tempe. Awalnya dia memiliki karyawan, namun setelah memiliki alat, produksinya membuat tempe ia kerjakan dengan istri dan anaknya.

 

Tempeh, itu lah nama produk tempe buatan Pak Rustono. Dalam liputan tvone tersebut menggambarkan tempeh di jual di supermarket di jepang. "Kita tidak mengajarkan kepada orang jepang tempe itu digoreng, dimendoan ataau yang lainnya, karena orang jepang itu suka bereksperimen sendiri." Ujar Pak Rustono. Berbagai restoran vegetarian di Jepang banyak menyajikan olahan tempe dengan berbagai bentuk olahan Jepang, seperti misoshiru tempe dan tempura tempe. Yang paling terkenal adalah burger tempe.

Bisnis tempe Pak Rustono ini berhasil. Tempe buatannya merambah hampir ke seluruh Jepang. Kemasan seberat 200 gram dengan label Rusto Tempeh bergambar ilustrasi suasana kehidupan kampung di Jawa. Selain masyarakat Indonesia di Jepang dan masyarakat Jepang sendiri, konsumennya juga meliputi perusahaan jasa boga, rumah makan vegetarian, toko swalayan, sekolah, hingga rumah sakit di Fukuoka. Tujuan bisnisnya ini tidak semata-mata untuk kaya tetapi untuk mencapai cita-citanya "menduniakan tempe". Baginya kekayaan itu otomatis, jika tempe mendunia maka kekayaan otomatis akan didapat. "Membidik sedikit, maka akan meleset seikit" kata Pak Rustono.

Penghargaan

Di Jepang sudah banyak buku mengupas tentang tempe. Di antaranya yang terkenal adalah The Book of Tempeh, tulisan William Shurtleft dan Akiko Aoujaga. Buku besar ini lengkap dengan uraian dan ilustrasi menarik tentang pembuatan dan manfaat tempe dengan latar belakang budaya Indonesia, terutama Jawa.

Ada juga buku terbitan Asosiasi Tempe di Jepang yang dikelola para profesor dan ahli gizi. Asosiasi ini mengadakan penelitian dan setiap tahun mengadakan seminar tentang tempe. Salah satu kajiannya adalah kandungan gizi tempe tak kalah dari daging sapi.

cr : 
tvone; bisnis keuangan.kompas

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Keajaiban Masjid Pertama di Jepang


Kobe Mosque merupakan masjid pertama di Jepang. Masjid ini dibangun tahun 1928 di Nakayamate Dori, Chuo-ku. Kobe berarti gate of God atau gerbang Tuhan. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Muslim Kobe (神戸ムスリムモスク Masjid Muslim Kōbe?).

Tahun 1945, Jepang terlibat perang Dunia Kedua. penyerangan Jepang atas pelabuhan Pearl Harbour di Amerika telah membuat pemerintah Amerika memutuskan untuk menjatuhkan bom atom pertama kali dalam sebuah peperangan.Dan Jepang pun kalah. Dua kotanya, Nagasaki dan Hiroshima dibom Atom oleh Amerika. Saat itu, kota Kobe juga tidak ketinggalan menerima akibatnya. Boleh dibilang Kobe menjadi rata dengan tanah.

Ketika bangunan di sekitarnya hampir rata dengan tanah, Masjid Muslim Kobe tetap berdiri tegak. Masjid ini hanya mengalami keretakan pada dinding luar dan semua kaca jendelanya pecah. Bagian luar masjid. menjadi agak hitam karena asap serangan bom. Tentara Jepang yang berlindung di basement masjid selamat dari ancaman bom, begitu juga dengan senjata-senjata yang disembunyikannya. Masjid ini kemudian menjadi tempat pengungsian korban perang.Pemerintah Arab Saudi dan Kuwait menyumbang dana renovasi dalam jumlah yang besar. Kaca-kaca jendela yang pecah diganti dengan kaca-kaca jendela baru yang didatangkan langsung dari Jerman. Sebuah lampu hias baru digantungkan di tengah ruang shalat utama. Sistem pengatur suhu ruangan lalu dipasang di masjid ini.

Sekolah yang hancur akibat perang kembali direnovasi dan beberapa bangunan tambahan pun mulai dibangun. Umat Islam kembali menikmati kegiatan-kegiatan keagamaan mereka di Masjid Muslim Kobe.

Krisis keuangan sering menghampiri kas komite masjid. Pajak bangunan yang tinggi membuat komite masjid harus mengeluarkan cukup banyak biaya dari kasnya. Beruntung, banyak donatur yang siap memberikan uluran tangannya untuk menyelesaikan masalah keuangan pembangunan dan renovasi masjid ini. Donasinya bahkan bisa membuat Masjid Muslim Kobe menjadi semakin berkembang.

Kekokohan Masjid Kobe diuji lagi dengan Gempa Bumi paling dahsyat tahun 1995. Tepatnya pada pukul 05.46 Selasa, 17 Januari 1995. Gempa ini sebenarnya bukan hanya menimpa Kobe saja, tapi juga kawasan sekitarnya seperti South Hyogo, Hyogo-ken Nanbu dan lainnya. Karena memiliki ruang bawah tanah dan struktur bangunan yang kuat, masjid ini selamat dari bencana gempa bumi tersebut.

Para ahli menyebutkan bahwa gempa itu disebabkan oleh tiga buah lempeng yang saling bertabrakan, yaitu lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Meski hanya berlangsung 20 detik, namuun gempa ini memakan korban jiwa sebanyak 6.433 orang, yang sebagian besar merupakan penduduk kota Kobe. Selain itu gempa Kobe juga mengakibatkan kerusakan besar kota seluas 20 km dari pusat gempa.

Gempa bumi besar Hanshin-Awaji merupakan gempa bumi terburuk di Jepang sejak Gempa bumi besar Kanto 1923 yang menelan korban jiwa 140.000 orang. Namun hingga kini masjid Kobe tetap berdiri kokoh dan tegak, seakan tidak tergoyahkan meski didera berbagai bencana.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Akita Kanto Matsuri


Salah satu Matsuri (Festival) musim panas yang sedang berlangsung saat ini adalah Kanto Matsuri yang merupakan salah satu dari tiga festival terbesar Jepang utara. Festival yang bersejarah selama 3 abad ini diselenggarakan setiap tahun selama 4 hari dari tanggal 3 sampai 6 Agustus di kota Akita, Prefektur Akita yang terletak di wilayah Tohoku utara Honsu, tanah utama Jepang.

Kanto ini adalah galah-galah yang digantungi banyak chochin (lentera kertas). Pada Kanto yang besar, bergantung 46 buah lentera kertas, ketinggiannya bisa sampai 12 meter dan beratnya hampir 50 kilogram. Kanto yang melambangkan untaian butiran padi ini ‘dibawa’ beramai-ramai sambil berjalan dengan meletakkannya pada dahi, pinggang atau panggung. Tujuan arak-arakan ini adalah sebagai doa untuk mendapatkan panen yang berlimpah.

Konon katanya pada pertengahan abad 18, dilakukan untuk mengusir kesurupan dan roh-roh iblis yang menghantui sepanjang pertengahan musim panas. Dan secara tidak sadar terhubungkan dengan ritual Budha untuk melindungi masyarakat dari kemalangan, membersihkan roh, dan menenangkan roh nenek moyang dan merangkul harapan orang-orang untuk datangnya panen besar. Pengaruh yang bercampur aduk membuatnya menghasilkan sebuah pertunjukan unik sebagai bentuk sekarang menjadi Festival Kanto.

Pada saat festival berlangsung, suasana diwarnai dengan irama dari drum dan pluit, dan saat bingkai raksasa dinaikan menjulang ke atas. Pria-pria yang dikenal sebagai sashite secara terlatih menyeimbangkan bingkai ketika dinaikan, dan mengawasi bambu, agar tidak tergoyahkan oleh hembusan angin. Kerumunan merasa tegang dan was-was ketika para sashite berakrobat mengalihkan bingkai diantara dahi, bahu, telapak tangan, ataupun punggung mereka. Bahkan beberapa sashite sampai lebih berani lagi memegang payung atau kipas dengan kedua tangan mereka sambil membawa bingkai dengan punggungnya, setiap sahshite kerap sekali melakukan gerakan yang menantang dan beresiko meskipun di tengah-tengah kerumunan penonton agar tercipta sebuah pertunjukan yang menegangkan. Bahkan ketika bingkai tersebut terancam terjatuh, justru kerumunan bersorak karena ini merupakan pemandangan dan pertunjukan yang spektakuler. Berputar setiap beberapa menit, kelompok sashite mengoyang-goyang kan “lebaran nasi” raksasa tersebut seakan-akan membuat langit malam Akita diterangi dengan cahaya jingga yang indah, membawa para penonton ke dunia fantasi.

cr : sprucefir, id.emb-japan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aomori Nebuta Matsuri (青森ねぶた祭り)

Saat ini di Jepang sedang musim panas. Pada saat musim panas banyak sekali Matsuri (Festival) yang dirayakan disana. Matsuri yang masih berlangsung saat ini adalah Nebuta Matsuri yang sudah diselenggarakan 1 agustus lalu hingga 7 agustus di kota Aomori, Perfektur Aomori. Festival ini termasuk salah satu acara menyambut Tanabata yang dilakukan di wilayah Tohoku.Nebuta adalah lentera ukuran raksasa yang dibuat dari kerangka kayu berlapis washi yang umumnya berbentuk boneka pemeran kabuki atau hewan. Nebuta diusung dengan kendaraan hias bergambar makhluk raksasa penyebab kantuk di musim panas untuk berpawai di jalan-jalan. Festival ini dimaksudkan untuk mengusir makhluk ini. Kata "nebuta" berasal dari "nemuri" (kantuk). Banyak sekali orang yang ikut menyaksikan festival ini setiap tahunnya.

Festival ini setiap tahunnya diikuti lebih dari 3 juta peserta dan wisatawan. Bersama-sama dengan Tanabata di Sendai, dan Kantō di Akita, Aomori Nebuta adalah salah satu dari tiga festival terbesar di wilayah Tohoku. Dua festival nebuta terbesar di Prefektur Aomori adalah Aomori Nebuta dan Hirosaki Neputa.

Ciri khas festival ini adalah orang yang menari beramai-ramai sewaktu berpawai bersama nebuta. Tari khas Festival Nebuta disebut haneto dengan gerakan kaki seperti melonjak-lonjak atau berjingkrak (跳ねる, haneru?). Tidak diketahui secara pasti asal mula istilah haneto dipakai untuk menyebut cara menari festival nebuta, namun istilah ini sudah dipakai dalam naskah asal tahun 1772-1781.

Penari juga disebut haneto (跳人) dan mengenakan kostum yang juga disebut haneto (ハネト). Kostum penari berupa yukata dari kain katun, dilengkapi tutup kepala (hanagasa) berhias bunga-bunga, kain pundak (tasuki) berwarna cerah (merah, merah jambu) pengikat lengan yukata, dan ikat pinggang kain (shigoki) untuk menggantungkan mangkuk minum (gagashiko) dari kaleng. Di bawah yukata dikenakan kain pinggang (okoshi) berwarna merah jambu untuk wanita (biru untuk pria) yang menutup pinggang hingga lutut. Alas kaki adalah tabi berwarna putih dan zōri. Penonton diharapkan untuk ikut menari. Kostum haneto dapat dibeli di toko serba ada atau dipinjam di toko peminjaman kostum.

Sejarah

Aomori Nebuta berawal dari tradisi menghanyutkan lentera kertas pada malam Tanabata. Boneka Nebuta yang dihanyutkan di sungai atau laut termasuk tradisi menghalau nasib buruk pada malam Tanabata. Sekitar 270-290 tahun yang lalu (era Kyōhō 1716-1735) di dekat kota Aburagawa dilangsungkan festival lentera yang mirip dengan Hirosaki Neputa. Peserta waktu itu mengusung lentera sambil menari di jalan-jalan. Pemandangan festival lentera waktu itu mungkin mirip dengan Gion Matsuri di Kyoto

Nebuta berbentuk lentera raksasa yang menggambarkan tokoh-tokoh dalam kabuki muncul sekitar puncak keemasan seni rakyat biasa pada era Bunka (1804-1817). Sejarawan daerah Takeo Matsuno menulis tentang festival nebuta di surat kabar To-o Nippo edisi Agustus 1966. Dalam tulisan tersebut dikisahkan tentang pengamat budaya zaman Edo bernama Gobutsu Kokkeisha menulis tentang pemandangan festival Tanabata di kota Noshiro, Prefektur Akita pada tahun 1843. Dalam buku Oku no Shiori, dikisahkannya tentang boneka-boneka kertas yang yang antara lain menggambarkan Kaisar Jingū dan Kato Kiyomasa dalam ekspedisi penaklukan Korea. Boneka-boneka kertas tersebut tingginya sekitar 10 m dan lebar 6 m, dan diarak di atas kendaraan beroda. Di dalam boneka-boneka kertas dipasang lilin. Nebuta diarak-arak oleh orang yang menari-nari dengan iringan genta, taiko, dan terompet kulit kerang. Pemandangan aneh tersebut dikatakannya juga ada di Hirosaki dan Kuroishi.

cr: wikipedia, kaskus

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ramadhan di Jepang

Masjid Tokyo

Ruyat-e-Hilal Committee-Japan mengumumkan bahwa awal Ramadan 1432 H jatuh pada hari Senin, 1 Agustus 2011. Pada saat ini di jepang sedang musim panas (Juni-Agustus) dimana suhu maximum 35oC, dengan kelembapan lebih dari 90%. lamanya waktu berpuasa disana sekitar 14,5 jam. Sebuah tantangan besar bagi kaum muslimin yang menjalankan puasa di negara matahari terbit tersebut dengan cuaca yang panas dan waktu puasa yang panjang. Dibandingkan di Indonesia seperti di jakarta dengan suhu rata-rata 30oC dan lamanya waktu berpuasa kurang lebih 13 jam.

Berikut ini adalah pengalaman mahasiswi indonesia yang kuliah di Jepang yang pernah di shunting di Republika online pada 07 September 2009.

Dari Puasa 14,5 jam Sampai Bergerilya Mencari Tempat Shalat.

Banyak pengalaman yang bisa dipetik dari menjalankan ibadah puasa Ramadhan di negara ateis, seperti Jepang. Dari lama puasa di musim panas yang mencapai 14,5 jam sampai susahnya mencari tempat untuk shalat tarawih berjamaah.

Seperti yang dialami Megasari Pusparini, wanita asal Bantul, Jawa Tengah, yang telah delapan tahun tinggal di negeri matahari terbit itu. Tahun pertama hingga keempat, ia habiskan di sebuah kota kecil di Pulau Kyushu, Beppu. ''Karena waktu itu masih kuliah, saya banyak berkumpul dengan teman-teman kampus saya,'' kata wanita lulusan Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) itu.

Ia menjalankan ibadah puasa bersama dengan Muslim dan Muslimah dari berbagai negara, karena di APU terdapat mahasiswa-mahasiswi dari 78 negara di dunia, baik dari Eropa, Amerika, dan Afrika. Mega pun menjalankan puasa dengan gembira.

''Apalagi, teman-teman dari Jepang yang non-Muslim sering ikut dalam acara-acara Ramadhan. Biasanya mereka ingin tahu mengenai kegiatan-kegiatan tersebut,'' katanya.

Seringkali Mega ditanyai oleh teman-teman dari Jepang tentang puasa dan Islam. ''Rasanya senang bisa mengenalkan Islam kepada mereka. Kenapa kita harus shalat, kenapa harus puasa, kenapa dilarang makan babi, kenapa memakai jilbab, dan masih banyak kenapa yang lain lagi,'' ungkapnya.

Meskipun demikian, hambatan yang dijumpai juga tidak ringan. Misalnya, sangat sulit menjumpai tempat untuk shalat tarawih. Oleh karena itu, Mega kini tinggal di Osaka. Di sini, bersama dengan teman-teman komunitas Muslimnya, harus mengadakan shalat tarawih sendiri.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rendahnya Tingkat Kelahiran di Jepang


Minat pria muda Jepang terhadap seks berkurang dan ini merupakan tambahan peringatan kepada negara yang terkenal dengan tingkat kelahiran rendah, menurut penelitian yang didanai oleh pemerintah Jepang, Jumat (14/1/2011).

Survei itu juga menemukan bahwa sekitar 40 persen pasangan menikah mengatakan, mereka tidak melakukan hubungan seks dalam sebulan terakhir, kata kepala klinik Asosiasi Keluarga Berencana Jepang, Kunio Kitamura, yang turut serta dalam penelitian tersebut.

“Ini secara langsung berkaitan dengan menurunnya tingkat kelahiran. Pembaruan kebijakan perlu dilakukan,” kata Kitamura kepada AFP.

Data yang terkumpul telah mengonfirmasi ada pandangan sosial yang meluas bahwa banyak lelaki muda menjadi “herbivora”, label terpasang pada pria pasif yang tidak secara aktif mencari perempuan dan hubungan seksual.

Survei per dua tahun menemukan 36,1 persen laki-laki Jepang usia antara 16-19 tahun mengatakan bahwa mereka tidak memiliki minat atau bahkan menganggap hina kegiatan seks, dan itu merupakan lonjakan dari survei 2008 yang mencatat 17,5 persen.

Dari pihak perempuan, sebanyak 59 persen dalam kategori usia sama menjawab hal serupa, meningkat 12 persen dibanding data 2008.

Hasil survei itu menjadi kekhawatiran pemerintah Jepang yang ingin mendorong pasangan muda memiliki keturunan agar dapat mengembalikan tingkat kelahiran rendah dan mencegah kemungkinan runtuhnya perekonomian negara.

Pemerintah Jepang memperkirakan jumlah kehamilan 1,37 kelahiran per perempuan pada 2009, salah satu peringkat terendah di dunia, dibanding 2,06 di Amerika Serikat dan 1,97 di Perancis.

Tren dipercaya sebagai faktor penyebab utama, khususnya di pedalaman Jepang, di mana perempuan yang melahirkan harus berhenti bekerja, berkurangnya pusat kesehatan anak, dan faktor sistematis lainnya.

Populasi Jepang sudah berangsur menurun dengan semakin banyak orang muda yang menunda memulai keluarga karena menganggap sebagai beban keuangan, gaya hidup, dan karier.

Sementara itu, negara yang dikenal dengan mortalitas terlama di dunia itu memiliki populasi manula yang semakin membengkak sehingga membebani sistem tunjangan kesejahteraan yang didukung oleh menyusutnya populasi tenaga kerja karena pendapatan pajak yang menurun.

Secara umum, survei itu menemukan bahwa seluruh kategori usia menunjukkan kecenderungan minat seksual yang menurun, kecuali pria berusia 30-34 yang terhitung 5,8 persen tidak tertarik dengan seks, lebih baik daripada pada 2008 yang menunjukkan 8,6 persen.

Jajak pendapat itu juga menemukan bahwa 40,8 persen pasangan menikah mengatakan, mereka tidak berhubungan seks dalam sebulan terakhir, meningkat dari 36,5 persen dalam survei 2008 dan 31,9 persen dalam survei 2004.

Hampir 50 persen pasangan menikah yang berusia lebih dari 40 tahun mengatakan, mereka tidak melakukan hubungan seks dalam sebulan terakhir, menurut penelitian itu.

Ada beberapa alasan mengapa pasangan tidak berhubungan seksual, di antaranya, karena keengganan secara tak sadar setelah melahirkan, karena waktunya tidak bisa diganggu, atau karena mereka terlalu letih bekerja, menurut sejumlah responden.

Survei itu, yang dilakukan oleh sekelompok ahli yang didanai oleh kementerian kesehatan, menerima jawaban valid dari 671 lelaki dan 869 perempuan dalam wawancara.

Penelitian itu awalnya dirancang untuk menghitung kesuksesan pendidikan keluarga berencana yang bertujuan mengurangi kehamilan yang tidak direncanakan, kata Kitamura.

Namun, tingkat aborsi menurun kemungkinan karena kecenderungan masyarakat yang acuh terhadap seks dan tidak dapat diperhitungkan sebagai nilai sukses pendidikan seks, katanya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Orang Jepang

Shiteimasuka?
 

Orang jepang terkenal dengan etos kerjanya. Kebanyakan dari mereka sangat sibuk, selalu on time. semua jam disana menunjukan jam dan detik yang sama. karena kesibukan aktivitasnya membuat kebanyakan mereka jarang tersenyum. sehingga mereka sulit tersenyum ataupun tertawa. karena hal ini ada privat untuk belajar tersenyum.
aneh bukan??

Masih berkaitan dengan kesibukan mereka, hal tersebut juga membuat mereka sangat duniawi. mengalami kegagalan adalah suatu aib untuk mereka. menyebabkan angka bunuh diri (harakiri bahasa jepangnya) sangat tinggi, bahkan merupakan angka tertinggi di dunia. hal ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, bahkan dilakukan pelajar di Jepang.
ckckck .^^a

Oia,,, da satu lagi nich yang mungkin sadar ga sadar kita tau. di jepang jumlah anak kecil semakin sedikit. kalo anda suka nonton film jepang/liputan tentang jepang, pasti jarang sekali anak - anak yang terliput. hal ini disebabkan "produktifitas" orang jepang terus menurun. kata sensei saya, para wanita jepang banyak yang enggan untuk menikah. sekalipun menikah mereka tidak "produktif" karena sibuk dengan karier mereka.Rencananya pemerintah jepang akan memberikan 13000 yen per bulansecara cuma cuma untuk setiap anak yang baru lahir. pada tahun kedua bonus meningkat menjadi 23000 yen/bulan/anak.




mau belajar bahasa jepang?? download E-Book disini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sistem Keuangan Syari'ah di Jepang



Jepang Pelajari Sistem Keuangan Syariah


Banyaknya negara Barat dan Asia yang mulai memasuki bisnis syariah ternyata menjadi bahasan menarik bagi Jepang. Bahkan, di negara matahari terbit ini, industri keuangan syariah disinyalir akan berkembang cukup pesat, meski mayoritas penduduk Jepang bukanlan Muslim seperti Indonesia atau Malaysia.

Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ), Toshihiko Fukui kepada parlemen Jepang menyebutkan, BOJ saat ini tengah bekerja keras mengkaji keuangan syariah. Selain itu, bank sentral juga tengah mengkaji kemungkinan keuangan syariah dapat diterapkan di pasar keuangan konvensional dalam waktu dekat. ''Saat ini BOJ tengah aktif mendalami pengetahuan mengenai keuangan syariah. Saya meyakini kontak antara pasar keuangan konvensional dengan keuangan syariah akan semakin berkembang lebih jauh lagi,'' katanya, seperti dikutip situs berita www.nasdaq.com. Rabu, (28/2).

Fukui menyebutkan, saat ini industri keuangan syariah dunia tengah berkembang pesat. Perkembangan tersebut dipicu lonjakan harga minyak dunia yang menyebabkan sejumlah negara Timur Tengah mengalami kelebihan likuditas dana. Kondisi ini mendorong para investor Timur Tengah berlomba menginvestasikan dana mereka di sejumlah negara lain terutama negara mayoritas Muslim. ''Ini merupakan fenomena baru dalam dunia keuangan global.''

Beberapa analis menilai upaya bank sentral Jepang mengkaji keuangan syariah dipicu tren meraup untung dari lonjakan harga minyak dunia melalui keuangan syariah. Tren tersebut bahkan telah diawali beberapa perusahaan Barat dan beberapa negara Asia seperti Singapura. Mereka menjaring dana investasi syariah asal Timur Tengah dan negara Muslim lainnya dengan menerbitkan obligasi yang sesuai prinsip syariah.

Demam bisnis keuangan syariah ternyata tak hanya dialami bank sentral Jepang. Awal pekan ketiga Januari lalu, pemerintah Jepang melalui lembaga kerja sama keuangan internasionalnya, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) mengadakan seminar dua hari promosi dan sosialisasi sistem dan transaksi keuangan syariah di Tokyo. Dalam seminar tersebut, JBIC bekerjasama dengan Islamic Financial Services Board (IFSB) yang berbasis di Kuala Lumpur.

Dorong stabilitas
Keseriusan Jepang dalam memasuki bisnis syariah terus berlanjut. Akhir Januari lalu, JBIC menyatakan siap menerbitkan obligasi syariah atau sukuk pada akhir April mendatang atau awal Mei tahun ini. Obligasi syariah tersebut bernama Maiden Shariah-Compliant Bond (MSCB). Penerbitan obligasi syariah tersebut juga memiliki tujuan serupa yakni menjaring dana investasi Timur Tengah untuk disalurkan bagi pembiayaan sejumlah proyek di Asia.

Menurut Direktur Umum dan Penasihat Senior Energi dan Sumber Daya JBIC, Tadashi Maeda, obligasi syariah JBIC akan diterbitkan dalam mata uang ringgit. Obligasi syariah tersebut ditargetkan mampu menjaring dana investasi setara dengan 250 hingga 300 juta dolar AS. ''Penjualan sepertinya akan dilakukan pada musim liburan di Jepang antara akhir April hingga awal Mei,'' katanya.

Rencana JBIC untuk menerbitkan obligasi syariah mendapatkan respon dari berbagai praktisi dan regulator keuangan syariah. Salah satunya adalah Sekjen Islamic Financial Services Board (IFSB), Rifaat Ahmed Abdel Karim, yang menilai rencana Jepang menarik dana investasi Timur Tengah dinilai cukup penting karena akan mendorong perkembangan industri layanan keuangan syariah dunia. Selain itu, rencana Jepang tersebut dinilai sebagai kontribusi dalam mendorong stabilitas industri keuangan syariah dunia secara menyeluruh.

sumber :
http://bank-article.blogspot.com/2008/05/jepang-pelajari-sistem-keuangan-syariah.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Boneka Jepang

Kokeshi
Kokeshi

Kokeshi
Kokeshi merupakan boneka Jepang yang terbuat dari kayu, dengan badan silinder yang sederhana dengan kepala yang lebih besar dari badannya, rambut yang sedikit, dan garis-garis yang digambar membentuk wajah. Biasanya di badannya digambar corak bunga dengan warna merah, hitam, kuning dan dilapisi dengan semacam lilin. Karakteristik mencolok dari boneka Kokeshi adalah tiadanya lengan dan kaki. Biasanya di bagian bawah boneka ini ditandai dengan cap/stempel pemiliknya.
Kokeshi ini telah dibuat selama 150 tahun, dan berasal dari utara pulau Honshu (pulau utama Jepang). Awal mulanya, boneka ini dibuat sebagai mainan dari anak-anak petani. Dari mainan yang sederhana ini, sekarang menjadi kerajinan Jepang yang terkenal, dan dijadikan souvenir bagi turis.

Kyo Ningyo - Dolls of Kyoto
Kyo Ningyo - Dolls of Kyoto

Ningyo
Ningyo (人形), yang berarti figur manusia, merupakan boneka tradisional yang biasanya berbentuk anak-anak atau bayi, pejabat kekaisaran, prajurit atau pahlawan, karakter dalam cerita dongeng, dewa dan setan, atau juga orang-orang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Sebagian besar dibuat secara tradisional untuk altar atau tempat keramat di rumah, untuk hadiah pemberian formal, atau perayaan festival seperti Hina Matsuri (pada Festival Boneka atau Hari Anak Perempuan tanggal 3 Maret) atau Tango no Sekko yang biasa disebut Kodomo ni Hi (Hari Anak-Anak atau Hari Anak Laki-Laki tanggal 5 Mei). Beberapa dirancang sebagai kerajinan lokal untuk dibeli oleh peziarah ke kuil atau perjalanan yang lain sebagai oleh-oleh.
Pada sekitar tahun 1000, beberapa tipe boneka sudah dibuat. Anak-anak perempuan bermain boneka dengan rumahnya, ibu-ibu membuat boneka pelindung dengan harapan senantiasa melindungi anak-anaknya serta cucu-cucunya, upacara keagamaan pun menggunakan boneka, untuk mengambil dosa dari orang yang disentuhkannya.
Mungkin saja pembuat boneka profesional pertama kalinya merupakan para pemahat/pematung dari kuil, yang ahli untuk membuat patung kayu yang menggambarkan anak-anak (boneka Saga). Keahlian membuat seni menggunakan komposisi kayu dan pahatan kayu, pernis yang menjadi “kulit” putih mengkilap yang disebut gofun, serta kain tekstil yang indah, kemudian menjadi meluas.

Zashiki Karakuri
Zashiki Karakuri

Karakuri
Karakuri merupakan boneka golek (puppet) atau automata dari abad 18-19, boneka mekanik mengagumkan dari kayu yang bisa bergerak. Karakuri sendiri bisa berarti alat mekanik untuk melakukan sesuatu, menggoda, atau memberi kejutan ke seseorang. Bisa saja berarti mengandung “sihir” tersembunyi dan misteri di dalamnya. Karakuri ini umumnya di festival atau ditampilkan di panggung hiburan berukuran kecil. Biasanya gerakan boneka ini diiringi dengan instrumen musikal.
Utamanya terdapat tiga tipe dari karakuri, Butai Karakuri (舞台からくり Karakuri Panggung) yang digunakan di teater/panggung. Zashiki Karakuri (座敷からくり tatami room karakuri?) yang kecil dan dimainkan dalam rumah. Dashi Karakuri (山車からくり festival car karakuri?) yang digunakan dalam festival keagamaan, dimana boneka ini digunakan untuk menampilkan mitos atau legenda tradisional.
Salah satu contoh zashiki karakuri adalah robot mekanik penyaji teh, yang bisa menyajikan teh, misalnya dalam situasi upacara minum teh (chado 茶道).

Hina Ningyo - Full Set
Hina Ningyo - Full Set

Hina Ningyo
Boneka ini merupakan boneka yang diperuntukan untuk Hina Matsuri, festival boneka, yang juga dikenal sebagi Momo no Sekku atau Festival Buah Persik. Boneka ini terbuat dari berbagai macam bahan, tetapi boneka Hina klasik mempunyai badan berbentuk seperti piramid dengan berlapis-lapis kain yang disi dengan jerami atau blok kayu, tangan dari kayu yang dipahat berlapis gofun, dan kepala dari kayu yang diukir atau dicetak berlapis gofun, dengan sepasang mata kaca (walau sebelum 1850 sepasang mata ini diukir di gofun kemudian dilukis) serta rambut dari sutra atau rambut asli manusia. Satu set terdiri dari 15 boneka yang mewakili karakter-karakter tertentu, dengan berbagai aksesoris (dogu), walaupun set dasarnya terdiri dari pasangan laki-laki dan perempuan yang biasanya diartikan Kaisar serta Permaisurinya.

file:///E:/boneka-tradisional-jepang.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Budaya Orang Indonesia Menurut Orang Jepang

Prof Nagano, staf pengajar Nihon University memberikan kuliah intensive course dalam bidang Asian Agriculturedi IDEC Hiroshima University.

Beliau sering menjadi konsultan pertanian di negara-negara Asia termasuk Indonesia. Ada beberapa hal yang menggelitik yang beliau utarakan sewaktu membahas tentang Indonesia:

1.Orang Indonesia suka rapat dan membentuk panitia macam-macam. 
Setiap ada kegiatan selalu di rapatkan dulu, tentunya dengan konsumsinya sekalian. Setelah rapat perlu dibentuk panitia kemudian diskusi berulang kali,saling kritik, dan merasa idenya yang paling benar dan akhirnya pelaksanaan tertunda-tunda padahal tujuannya program tersebut sebetulnya baik.

2. Budaya Jam Karet
Selain dari beliau, saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang asing yang pernah ke Indonesia. Ketika saya tanya kebudayaan apa yang menurut anda terkenal dari Indonesia dengan spontan mereka jawab : Jam Karet! Saya tertawa tapi sebetulnya malu dalam hati.Sudah sebegitu parahkah disiplin kita?

3. Kalau bisa dikerjakan besok kenapa tidak (?)
Kalau orang lain berprinsip kalau bisa dikerjakansekarang kenapa ditunda besok? Saya pernah malu juga oleh tudingan Sensei saya sendiri tentang orang Indonesia. Beliau mengatakan, Orang Indonesia mempunyai budaya menunda-nunda pekerjaan.

4. Umumnya tidak mau turun ke Lapangan
Beliau mencontohkan ketika dia mau memberikan pelatihan kepada para petani, pendampingnya dari direktorat pertanian datang dengan safari lengkap padahal beliau sudah datang dengan work wear beserta sepatu boot. Pejabat tersebut hanya memberikan petunjuk tanpa bisa turun ke lapang, kenapa? Karena mereka datangnya pakai safari dan ada yang berdasi. Begitulah beliau menggambarkan orang Indonesia yang hebat sekali dalam bicara dan memberikan instruksi tapi jarang yang mau turun langsung ke lapangan.

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita sudah terlalu sering dinina-bobokan oleh istilah indonesia kaya,masyarakatnya suka gotong royong, ada pancasila,agamanya kuat, dan lain-lain.Dan itu hanyalah istilah, kenyataannya bisa kita lihat sendiri.

Ternyata negarakita hancur-hancuran, bahkan susah untuk recovery lagi, mana sifat gotong royong yang membuat negara seperti Korea, bisa bangkit kembali. Kita selalu senang dengan istilah tanpa action. Kita terlalu banyak diskusi,saling lontar ide, kritik, akhirnya waktu terbuang percuma tanpa action. Karena belum
apa-apa sudah ramai duluan.

Kapan kita akan sadar dan intropeksi akan kekurangan-kekurang an kita dan tidak selalu menjelek-jelekkan orang lain? Selama itu belum terjawab kita akan terus seperti ini, menjadi negara yang katanya sudah mencapai titik minimal untuk disebut negara beradab dan tetap terbelakang disegala bidang. Mudah-mudahan pernyataan beliau menjadi peringatan bagi kita semua, terutama saya pribadi agar bisa lebih banyak belajar dan mampu merubah diri untuk menjadi yang lebih baik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS